Rabu, 13 Juni 2012

Cerita Sex: Kenikmatan Wanita Berumur 2 - Budhe Yarmi


BAGIAN II
Jam menunjukkan pukul setengah lima ketika aku bangun tidur. Perutku keroncongan menahan lapar. Setelah membasuh muka di kamar mandi, aku keluar kamar dan kulihat Budhe Yarmi di ruang tengah. Tampaknya dia juga baru pulang.
“Baru pulang Budhe?” tanyaku.

“He eh… baru bangun kamu? Sampai-sampai belum makan siang,” katanya melihatku langsung menuju meja makan dan mengambil piring siap-siap untuk makan.
“Iya Budhe… he… he…. Abis kecapekan maen game tadi,” kataku berbohong.
“Oh.. pantesan, Mbok Yem tadi bilang kamu seharian di kamar aja. Udah makan dulu, terus mandi, Budhe mau istirahat dulu di kamar,” kata Budhe.
“Iya Budhe,” kataku.
Selesai makan, aku mencari Mbok Yem ke belakang, karena biasanya jam segini dia menyirami tanaman di taman belakang. Kulihat dia lagi asyik dengan pekerjaannya, dan langsung kupeluk dia dari belakang.
“Eh… eh….. Mas… jangan disini Mas, ntar ketahuan Ibu,” katanya terkaget-kaget.
“Hi… hi…. Aman kok Mbok, Budhe masih di kamar,” kataku sambil mengecup bibirnya.
Mbok Yem mendorong pelan tubuhku kebelakang.
“Tapi jangan sekarang dong Mas, Mbok takut kalau tiba-tiba Ibu muncul,” katanya.
“Iya… iya… sayang,” kataku masih memegangi pinggangnya.
Mbok Yem mendorong tanganku dari pinggangnya.
“Udah ah, mandi sana Mas,” katanya.
“Ini juga mau mandi sayang, tapi sun dulu dong…” kataku menggoda Mbok Yem.
“Hi… hi….” Kata Mbok Yem sambil tertawa kecil.
Kemudian dia mengecup lembu bibirku, dan meneruskan pekerjaannya. Setelah itu aku mandi karena baru ingat kalau aku ada janji dengan temanku. Selesai mandi aku siap-siap mau pergi. Kulihat Mbok Yem juga sudah selesai dengan pekerjaannya.
“Mbok, nanti kalau Budhe nyariin, bilang aja aku ke rumah teman,” kataku.
“Iya Mas, mau ngapel ya? Hii… hii….” Katanya.
“He… he… ngapel siapa Mbok? Kan pacarku masih disini…” kataku mendekati dia dan kukecup bibirnya.
“Ih…. Jangan keras-keras Mas…. Udah pergi sana, senangnya kok nggodain Mbok,” katanya manja.
“Iya…. sayang…” kataku dan kucolek payudara Mbok Yem.
“Eh…. Nakal…” kata Mbok Yem sambil menepis tanganku yang jahil.
Sambil tertawa kecil, aku keluar dan mengambil motor. Sore ini aku ada janji sama Budi teman kampusku. Jam setengah sembilan aku baru sampai rumah. Setelah memasukkan motor ke garasi dan kukunci pagar, aku masuk rumah. Kulihat Budhe lagi asyik nonton TV.
“Udah makan An?” katanya ketika melihatku.
“Belum Budhe,” kataku.
“Ya udah makan dulu sana, jangan sering-sering telat makan gitu, ntar sakit,” katanya.
“Iya Budhe, Aan ganti baju dulu,” kataku sambil melangkah ke kamarku.
Setelah ganti baju aku langsung menuju meja makan. Sembari makan sesekali kulirik Budhe yang sedang asyik nonton reality show di TV. Malam ini Budhe memakai daster selutut tanpa lengan dengan kancing didepan. Memang suhu malam ini cukup panas, mungkin sebentar lagi mau turun hujan. Selesai makan, kuambil kasur tipis dan bantal, langsung kuhamparkan diatas karpet di depan TV. Budhe Yarmi masuk ke kamarnya, tapi tak lama kemudian dia keluar sambil menenteng bantal.
“Geser dikit An,” katanya.
Kugeser sedikit tubuhku dan Budhe berbaring di sebelah kiriku. Aku sedikit kaget, karena selama ini Budhe tidak pernah ikut-ikutan tidur di depan TV. Biasanya dia hanya duduk di sofa saat kami nonton TV sama-sama. Sedangkan aku memang lebih senang nonton TV sambil tiduran. Kemudian kamipun asyik nonton TV, sesekali kami ngobrol soal-soal sepele. Selanjutnya suasana diam karena kami asyik nonton TV. Kulihat jam menunjukkan pukul sepuluh malam ketika kudengar suara rintik hujan yang mulai turun. Kudengar dengkuran halus Budhe Yarmi. Rupanya Budhe kecapekan karena seharian tadi banyak kegiatan. Kulihat kearah Budhe dan hatiku langsung berdesir. Posisi tidur Budhe memunggungiku. Kaki kanannya tertekuk diatas kaki kirinya. Dasternya sedikit tersingkap, kulihat pahanya yang putih mulus menggairahkan. Kesempatan ini tidak kusia-siakan, karena baru kali ini aku bisa sepuas-puasnya memandangi Budhe. Suara dengkuran Budhe terdengar lembut dan di luar hujan juga terdengar makin deras.
Dengan sangat hati-hati kutarik daster Budhe sedikit keatas sampai terlihat hampir semua paha Budhe. Putih mulus dan sedikit gempal. Acara reality show di TV sudah tidak kupedulikan lagi, karena aku lagi asyik memandangi paha Budhe dan berpikir keras bagaimana caranya aku bisa melihat lebih jauh lagi. Akhirnya dengan gerakan yang seolah-olah tidak disengaja, kuposisikan tubuhku tepat dibelakang Budhe. Masih ada jarak diantara kami, sehingga tubuhku belum menempel ke tubuhnya. Mataku kupejamkan, kemudian tanganku kuletakkan diatas Budhe, supaya kalau Budhe terbangun dikiranya aku sudah tertidur dan tidak sengaja menyentuh pahanya. Hatiku berdebar-debar menunggu reaksi Budhe Yarmi. Tanganku hanya terdiam diatas pahanya yang sangat lembut kurasakan. Suara dengkuran Budhe masih terdengar lembut, rupanya dia tertidur pulas. Aku mulai membelai lembut paha Budhe. Mataku masih terpejam dam hatiku tambah berdebar-debar. Rasa takut menghinggapiku, tapi sensasi yang juga timbul mengalahkan rasa takutku.
“Eeghhhh…”
Tiba-tiba Budhe mendesah dan sedikit bergerak. Langsung kutarik tanganku dari pahanya. Aku terdiam dengan jantungku yang berdebar sangat keras. Kutunggu tidak ada gerakan lagi dari Budhe. Dengkuran tidurnya masih terdengar lembut olehku.
Setelah yakin kalau Budhe masih tertidur pulas, kuputuskan untuk mengambil langkah berani. Kumajukan tubuhku hingga kurasakan penisku menempel ke pantat Budhe yang empuk. Kulingkarkan tanganku ke perut Budhe Yarmi. Aku terdiam sambil menunggu lagi reaksi Budhe. Hujan yang masih deras diluar rupanya memberi dampak. Karena suhu yang tadi sangat panas, sekarang terasa dingin. Rupanya Budhe juga merasakan sedikit kedinginan, karena dia malah menggeser tubuhnya kebelakang dan tangan kananku terjepit tangannya. Penisku makin tertekan ke pantat Budhe. Sensasi yang kurasakan sangat mengasyikkan. Pantat Budhe yang berisi lain sekali kurasakan dibandingkan dengan pantat Mbok Yem yang baru tadi siang kurasakan. Penisku bertambah tegang karena terimpit pantat Budhe.
Kuelus-elus perut Budhe dengan tanganku. Tidak afa reaksi dari Budhe, karena dia masih mendengkur. Rupanya tidurnya sangat pulas. Tidak puas hanya mengelus-elus perutnya, kupindahkan elusanku lebih keatas sampai tersentuh bagian bawah payudara Budhe. Aku kaget, karena tidak kurasakan ada BH yang menutupi payudaranya. Rupanya aku tidak begitu memperhatikan hal itu tadi. Kuelus-elus bagian bawah payudara Budhe. Empuk dan kenyal, karena ukurannya yang cukup besar. Lebih besar dari punya Mbok Yem. Kugerakkan tanganku lebih keatas sampai menyentuh putting Budhe Yarmi. Kudiamkan tanganku sepeti itu, karena jantungku berdegup lebih kencang menunggu reaksi Budhe. Selama itu mataku masih tertutup rapat. Setelah cukup lama, mulai kubelai puting Budhe Yarmi. Putingnya sangat besar kurasakan walau masih tertutup dasternya.
“Eeghhh…” Budhe Yarmi mendesah pelan.
Kaget, kuhentikan gerakan tanganku tapi tetap kubiarkan diatas payudara Budhe. Dengkuran Budhe terhenti, tapi tak lama kemudian terdengar lagi meski lebih pelan. Yang membuat jantungku lebih berdebar, Budhe menggerakkan sedikit pantatnya sehingga penisku sekarang tepat berada diantara belahan pantat Budhe. Seakan mendapat angin segar, kuberanikan lagi untuk mengelus-elus puting Budhe yang terasa mengeras olehku. Pelan dan sangat hati-hati kubuka kancing daster Budhe satu persatu. Dengkurannya masih terdengar halus, tapi kurasakan jantungnya berdegup kebih kencang. Kancing terakhir yang terletak sedikit di atas perutnya akhirnya terlepas. Kubuka dasternya, dan untuk pertama kali kulihat payudara Budhe yang sangat menggairahkan. Putingnya yang mengeras terlihat sangat kontras warnanya dengan kulit Budhe yang putih. Payudaranya sedikit kendur, tapi masih terasa kenyal. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, kuremas pelan payudara Budhe yang sudah terbuka. Kupilin-pilin putingnya dengan jariku. Tiba-tiba dengkuran Budhe Yarmi terhenti, tapi matanya masih terpejam dan dia hanya diam saja. Degup jantungnya semakin kencang kurasakan. Terus kumainkan putingnya dan kuremas-remas payudaranya. Kutekan penisku diantara belahan pantatnya.
“Eeghhhhh…..” terdengar desahan Budhe Yarmi.
Karena sudah sangat terangsang kali ini aku tidak menghentikan aksiku. Tiba-tiba Budhe menggerakkan tubuhnya. Dia merubah posisi tidurnya, dan sekarang Budhe tidur terlentang dengan kedua tangannya diatas kepalanya. Matanya masih terpejam walau dengkurannya sudah tidak terdengar lagi. Mendapat lampu hijau, kupindahkan elusanku ke payudara satunya. Kumainkan lagi putingya. Karena sudah tidak tahan lagi, kuberanikan untuk mencium putting payudarnya. Kugigit pelan putingnya.
“Eeghhhhh….” Budhe merintih pelan.
Tubuhnya sedikit terangkat dan mulutnya sedikit terbuka. Kulanjutkan melumat putingnya. Kali ini yang sebelah kiri menjadi sasaranku. Tanganku mulai bergerak membelai paha Budhe Yarmi. Kutarik bagian bawah dasternya keatas sampai terlihat CD-nya. Memeknya terlihat menggembung tertutup CD warna putih dan terlihat sedikit basah di bagian tengahnya. Samar-samar kulihat bulu-bulu hitam dibalik CD-nya. Langsung kuelus-elus CD-nya. Kutekan-tekan CD-nya yang sudah basah.
“Eeghhhhh….” Budhe mendesah dengan nafas yang semakin menderu.
Kuturunkan CD Budhe sampai di tengah pahanya. Terlihatlah memek Budhe, rambut hitamnya sedikit, tidak seperti punya Mbok Yem. Dengan jari tengahku, kuelus-elus bibir memek Budhe Yarmi. Kucari-cari itilnya, setelah kutemukan, langsung kumainkan dengan jariku.
“Eggghhh….. Eghhhh….” Desahan Budhe terdengar lebih sering.
Tubuhnya terangkat keatas ketika jariku masuk ke lubang memeknya. Lubang memek Budhe terasa hangat oleh jariku. Kugerakkan jariku didalm memeknya sementara itu tidak kuhentikan melumat payudara Budhe. Tiba-tiba Budhe bergetar keras. Tubuhnya terangkat dan desahannya terdengar lebih kencang.
“Aagghhhh…. Egghhhhh… Egggghhhhhh….”
Jariku terasa hangat oleh cairan yang keluar dari dalam memeknya. Rupanya Budhe orgasme. Cepat sekali kupikir, mungkin sudah lama tidak disentuh laki-laki. Lubang memek Budhe berdenyut-denyut sehingga jariku terasa dijepit dinding memeknya.
“Uuuugghhhhh….” Budhe mendesah lagi.
Bersamaan dengan desahannya itu, kurasakan memek Budhe tidak menyembur lagi. Selama itu mata Budhe masih tertutup rapat, tapi aku yakin Budhe tidak tidur sama sekali. Tiba-tiba disingkirkannya tanganku dari memeknya lalu CD-nya dinaikkan lagi ke tempat semula, kemudian sambil merubah posisi tidurnya memunggungiku, dasternya ditarik ke bawah lagi menutupi pahanya yang tadi terbuka lebar. Kancingnya masih dibiarkan terbuka, hanya ditutupkan ke payudaranya. Kemudian dia diam dan mengapitkan pahanya rapat-rapat. Cukup lama kutunggu reaksi dari Budhe dengan rasa frustasi. Tak lama terdengar lagi dengkuran Budhe. Rupanya malam ini hanya cukup sampai disini aksiku. Putus asa, kuputuskan untuk memusatkan pandanganku ke layar TV. Tak lama mataku terasa berat, dan akhirnya akupun tertidur. Jam tiga pagi aku terbangun dari tidur. Hujan sudah reda dan kulihat Budhe sudah tidak ada disampingku. Rupanya dia sudah pindah ke kamar. TV juga sudah dimatikan. Aku bangkit dan menuju ke kamarku untuk melanjutkan tidurku.
Pagi hari aku terbangun agak telat. Setelah membersihkan muka aku keluar kamar. Kulihat Budhe sedang menyiapkan sarapan. Kalau Minggu Mbok Yem libur.
“Sarapan dulu An,” kata Budhe.
Nada bicaranya datar saja.
“Eeh… iya Budhe,” sedikit gugup kujawab.
Aku sedikit salah tingkah karena teringat apa yang terjadi semalam. Tapi kulihat Budhe tidak mempersoalkan itu. Budhe bertingkah seperti biasanya. Aku jadi sedikit tenang, walaupun jadi bingung sendiri. Akhirnya kuputuskan untuk melupakan itu, dan berlagak seperti biasanya. Kulahap sarapanku, karena perut ini juga terasa keroncongan. Selesai beres-beres meja makan, Budhe ke dapur.
“An, kalau udah selesai, tolong cuciin mobil ya,” kata Budhe dari dapur.
“Mmpff.. iya Budhe,” kataku dengan makanan masih di mulutku.
Selesai makan, kukeluarkan mobil Budhe dari garasi dan kucuci. Cukup lama kubersihkan mobil Budhe yang memang sudah cukup kotor karena seminggu belum dicuci. Kemudian aku mandi, karena hari ini aku janjian mau ngantar Anto temeanku ke Mall nyari jaket. Keluar kamar, kulihat Budhe di teras depan sedang membaca koran.
“Budhe, Aan keluar dulu. Mau nganterin Anto,” kataku.
Anto memang cukup sering maen ke rumah. Jdi Budhe juga sudah kenal dengan Anto.
“He eh… hati-hati, sebentar lagi kayaknya hujan tuh,” kata Budhe masih membaca koran.
“Iya Budhe,” kataku.
Memang pagi ini awan sedikit mendung. Maklum lagi musim hujan. Padahal kemarin hujan baru turun malam hari. Hari ini kayaknya hujan turun lebih awal. Kukeluarkan motorku dan langsung menuju ke rumah Anto. Sampai di rumah Anto, yang membukakan pintu *****ya.
“Pagi Tante, Antonya ada Tante?” kataku sopan.
“Oh kamu An, tuh lagi mandi. Masuk aja,” katanya mempersilahkan aku masuk.
“Terima kasih Tante, kok sepi Tante?” tanyaku.
“Iya, Papanya Anto lagi ngantar Raras ke sekolah. Ada acara sekolah katanya,” jawab Tante.
Mama Anto masih cukup muda, 40 tahun. Biasanya kami memanggilnya Tante Ida. Memang Tante Ida adalah mama tiri Anto, karena Mama kandung Anto sudah lama meninggal. Makanya jarak umur Anto dengan Raras adik tirinya cukup jauh. Tante Ida berparas ayu dan cukup tinggi untuk ukuran wanita. Setiap keluar rumah selalu memakai jilbab dan baju tertutup. Tapi tadi aku sempat kaget, karena kulihat Tante Ida membukakan pintu cuman memakai daster. Rambutnya hitam tebal dan lurus sebahu menambah paras ayunya. Hatiku sempat berdesir, karena selama ini belum pernah kulihat.
“Tunggu bentar ya An, Tante panggilin Anto,” katanya sambil berjalan ke dalam rumah.
Sembari duduk, kuperhatikan betis Tante Ida yang putih dan ramping. Tak tahan juga rasanya melihat betis Tante Ida yang menggairahkan itu. Tapi cepat-cepat kusingkirkan pikiran itu karena kulihat Anto keluar dari dalam rumah. Setelah berpamitan dengan Tante Ida, kamipun berboncengan keluar rumah. Cukup lama kami jalan-jalan di Mall, karena memang jaket yang diinginkan Anto cukup susah nyarinya. Keluar dari Mall jam setengah satu siang, gerimis mulai turn. Kupacu motorku ke rumah Anto. Sampai rumah Anto, aku langsung cabut karena gerimis semakin deras. Sebelum ke rumah, masih sempat kupakai mantelku. Sesampai di rumah, tidak kulihat Budhe Yarmi. Aku langsung ke kamar dan ganti baju. Karena tidak ada yang bisa kukerjakan, kunyalakan komputer dan aku main game sebentar. Setelah sekitar satu jam aku main komputer, perutku keroncongan. Kumatikan komputer dan langsung ke meja makan. Lagi asyik makan, kulihat Budhe keluar dari kamar sambil membenahi rambutnya.
“Pulang jam berapa An?” tanyanya sambil mengambil air putih.
“Jam satu Budhe,” kataku melanjutkan makan.
“Budhe ketiduran tadi, abis makan tolong keluarin kasurnya ya An,” katanya sambil masuk kamar lagi.
“Eghh.. iya Budhe,” kataku sedikit tersedak.
Sambil makan kubayangkan apa yang terjadi semalam. Bakalan asyik-asyik lagi nih pikirku. Mau nggak mau pikiran kotorku timbul lagi. Selesai membereskan meja makan, kuatur lagi kasur di depan TV. Tidak lupa kuambil bantal di kamar dan langsung kurebahkan badanku sambil menyalakan TV. Lama juga Budhe didalam kamar, tak tahu apa yang dikerjakannya. Ketika Budhe keluar kamar, aku terkaget-kaget. Karena Budhe hanya menggunakan daster. Tapi kali ini dasternya hanya pakai tali tipis di pundaknya, tangannya memegang bantal didadanya. Kemudian Budhe berbaring disampingku dengan posisi seperti tadi malam. Karena sudah tidak tertutup bantal, sekarang dapat kulihat belahan dada Budhe yang putih dengan jelas. Penisku langsung bereaksi dan tegang. Sebenarnya acara TV di siang hari ini tidak terlalu menarik bagiku. Kemudian kami mengobrol tentang banyak hal sambil sesekali tertawa-tawa. Karena haus, aku bangkit dari kasur dan langsung mengambil air putih di kulkas. Sekembaliku ke ruang tengah, posisi tidur Budhe sudah miring dan punggungnya menghadap kearahku. Pelan-pelan kubaringkan tubuhku disampingnya. Aku hanya diam karena bingung untuk memulai, sambil berharap ada sinyal dari Budhe.
Tak lama kemudian, sinyal itu datang. Pelan kudengar suara dengkur Budhe diiringi desahan nafasnya yang berat. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi kumulai menjalankan aksiku. Kali ini aku berencana menlakukan yang sdikit berbeda dibandingkan aksiku tadi malam. Kulepas celana dan kaosku hingga aku tinggal memakai CD saja. Kuposisikan tubuhku tepat di belakang Budhe, sampai kurasakan penisku menyentuh belahan pantat Budhe. Tanganku bergerak ke pundaknya. Pelan-pelan kutarik tali daster Budhe kebawah. Kuangkat sedikit tangannya supaya lebih mudah sampai terlepaslah tali dasternya. Payudara Budhe yang putih menyembul keluar, langsung kuremas-remas dan kupilin-pilin putingnya. Kali ini sudah tidak ada rasa takut lagi, karena aku yakin Budhe sadar akan perbuatanku. Kudengar suara dengkuran Budhe sudah hilang, digantikan dengan suara nafasnya yang menderu. Matanya tertutup rapat dan bibirnya yang tebal sedikit terbuka tapi aku yakin Budhe hanya pura-pura tidur.
“Eeghhhh….” akhirnya kudengar desahan pertama Budhe di siang itu.
Tanganku bergerak ke bawah kearah perutnya. Kuelus-elus lembut. Terus ke bawah sampai kusentauh ujung bawah dasternya. Kutarik keatas, sampai pahanya terlihat. Tapi karena masih tertahan tubuhnya, cukup susah aku untuk melihat lebih jauh. Tiba-tiba, Budhe sedikit mengangkat pinggulnya. Tak ingin kehilangan kesempatan, langsung kutarik dasternya keatas sampai ke perut Budhe. Aku kaget setengah mati, karena kulihat tidak ada CD. Memeknya dengan bulu hitam tipis terlihat jelas olehku. Rupanya tadi di kamar Budhe sudah bersiap-siap menghadapi ‘serangan’ku. Langsung kubelai lembut pahanya bagian dalam. Kuelus-elus dengan lembut sampai terasa jariku menyentuh bulu-bulu halus di sekitar memek Budhe. Sembari tanganku masih mengelus-elus paha Budhe, kugosok-gosokkan penisku ke belahan pantat Budhe.
“Eghhh…” desah Budhe merasakan penisku yang keras menekan-nekan pantatnya.
Tiba-tiba Budhe merubah posisi tidurnya. Seperti tadi malam, Budhe terlentang dengan tangan diatas kepalanya hingga sekarang dapat kulihat jelas memeknya. Payudaranya yang sebelah kanan sudah terbuka lebar dengan putting yang mengeras. Kuraih tali daster Budhe satunya yang masih menggantung di pundaknya. Kutarik seluruh dasternya ke bawah sampai terlepas. Sekarang Budhe Yarmi telanjang bulat di hadapanku. Nafasnya menderu dan selama itu matanya masih tertutup. Tak butuh waktu lama, langsung kulumat payudara Budhe yang sudah terbuka lebar. Tanganku juga langsung beraksi di memek Budhe Yarmi. Kuelus bibir memek Budhe dengan jariku, seperti yang kulakukan tadi malam. Tapi kali ini sensasinya berbeda, karena sekarang Budhe tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya yang indah. Kusentuh ‘itil’-nya sampai Budhe menggelinjang dan mendesah.
“Eeeeggghhhhh…..” desahnya.
Kubuka sedikit pahanya, sehingga tanganku lebih leluasa mempermainkan memeknya. Kumasukkan jariku ke lubang memeknya sembari terus kulumat payudara Budhe bergantian.
“Uugghhhhhh…. Ughhhhh….” Erang Budhe ketika kumaju mundurkan jariku didalam memeknya.
“Eeghhhh…. Eeghhhhh……” desahan Budhe semakin membuat aku terangsang.
Budhe juga kelihatan semakin terangsang, tangannya ditutupkan di matanya. Nafasnya terdengar semakin tidak beraturan. Karena tidak ingin ini berakhir seperti tadi malam, aku pindah posisi di bawah Budhe Yarmi. Kubuka pahanya lebar-lebar sampai lubang memeknya terlihat jelas. Kusodorkan kepalaku ke memeknya. Kujilati lubang memek Budhe dan tidak lupa ‘itil’nya juga menjadi sasaran lidahku.
“Aaghhhh… ahhhh… ahhhh….” Budhe mendesah lebih kencang dan pinggulnya terangkat seakan-akan tidak ingin lidahku terlepas dari memeknya.
“Uuughhhhh… ughhhhh….” Desah Budhe.
Tubuh Budhe menggelinjang lebih keras. Kemudian kurasakan tubuhnya bergetar keras dan diangkat pantatnya tinggi-tinggi.
“Aaaaagggghhhhhh………..” Budhe mendesah panjang.
Budhe mencapai klimaksnya. Kurasakan ada cairan keluar dari lubang memeknya. Terus kujilati sampai akhirnya tubuh Budhe berhenti bergerak dan sudah tidak ada lagi cairan yang keluar dari dalam memeknya. Memeknya basah sekali oleh cairan Budhe bercampur dengan ludahku. Nafas Budhe semakin tidak karuan, bibirnya terbuka lebih lebar. Aku naik keatas tubuh Budhe, kucium bibirnya yang merekah menggairahkan. Budhe membalas ciumanku dengan antusias. Kumasukkan lidahku kedalam mulutnya dan bertemu dengan lidahnya. Kupegang penisku dan kuarahkan diantara pahanya yang terbuka lebar. Kepala penisku menyentuh bibir memek Budhe. Tiba-tiba Budhe menghentikan ciumanku, matanya terbuka lebar dan berusaha mendorongku.
“Ja…. Jangan An….” Katanya lemah.
Tak kupedulikan kata-kata Budhe, aku terus berusaha menekan penisku masuk ke dalam memek Budhe. Tapi Budhe juga menahanku lebih keras.
“Jangan An….” Katanya dengan nada yang lebih keras.
“Tapi Aan udah nggak tahan Budhe…” kataku.
“Eghhh… Budhe juga An tapi jangan dimasukin An, Budhe takut…”
“Takut kenapa Budhe?” tanyaku.
“Udah An… jangan tanya… pokoknya kamu minggir dulu ya An, nanti Budhe bantuin ngeluarin ‘itu’mu…” katanya.
Akhirnya dengan sedikit rasa putus asa, aku bergeser ke samping. Budhe bangkit dari tidurnya, kemudian menmbimbingku untuk duduk di sofa. Aku menurut saja, nggak tahu apa yang ada di pikiran Budhe Yarmi. Kemudian Budhe bersimpuh di bawahku. Di pegangnya penisku yang masih tegang sekali . Diremas-remasnya penisku dan mulai dikocok-kocoknya. Tangannya yang lembut membuat penisku semakin tegak berdiri.
“Mm… punyamu besar banget An..” kata Budhe tanpa memandangku.
“MMmmm…. Enak banget Budhe… sama punya Pakdhe gedean mana Budhe?” kataku dengan mata terpejam-pejam merasakan kenikmatan.
“Ssstt… Jangan ingat-ingat Pakdhe, An…” kata Budhe menunduk.
Aku merasa bersalah, karena menyinggung-nyinggung Pakdhe disaat kami lagi beginian. Akupun terdiam dan mencoba menikmati saja kocokan tangan Budhe.
“Tapi… memang kamu jauh lebih besar dari punya Pakdhe…” kata Budhe tiba-tiba dengan memandangku.
Akupun tersenyum dan kubelai lembut pipi Budhe. Kemudian tanpa kusadarai, Budhe mengarahkan mulutnya ke penisku. Kepala penisku dijilati dengan lidahnya.
“Uuughhhhh….. enak Budhe….” desahku merasakan bibir Budhe yang mulai mengulum penisku.
Dielus-eusnya buah zakarku dengan tangannya yang lembut. Aku semakin terangsang oleh aksi Budhe. Setengah penisku sudah masuk ke dalam mulut Budhe. Kemudian digerakkan kepalanya naik turun. Penisku terasa nikmat sekali dikulum Budhe seperti itu. Rupanya Budhe sangat ahli dalam melakukan oral seperti ini. Kupegang kedua payudaranya dengan tanganku.
“Uugghhhh….. teruuus Budhe….” Rintihku.
Kepala penisku teras berdenyut-denyut dan buah zakarku terasa penuh sekali.
“Ugghhhh… Bu…dhe… mau keluaaar…..” kataku sambil meremas payudara Budhe.
“MMppffff…..” desah Budhe.
Budhe tidak menghiraukan peringatanku, dia terus mengulum habis penisku. Tubuhku bergetar keras dan kumuntahkan seluruh isi penisku di dalam mulut Budhe.
“Aaaagghhhhhh……….” Erangku panjang.
“Mmmpppff…….” Suara Budhe terdengar aneh, karena mulutnya penuh dengan spermaku.
Disedotnya penisku sampai isinya habis tidak bersisa, dan ditelannya spermaku sampai hanya tersisa sedikit diujung-ujung bibirnya.
“Mmmppppffff……..” desah Budhe.
Kusandarkan punggungku ke sofa. Budhe melepas penisku dari mulutnya dan memandangku lekat-lekat sambil tersenyum.
“Gimana An? Enak nggak?” katanya tersenyum.
“Hhh… hhhh… enak banget Budhe…” kataku masih merasakan sisa-sisa kenikmatan.
“Hi… hi…. Udah lama Budhe merasakan yang seperti ini An,” kata Budhe sambil bangkit dan duduk disampingku.
Kupeluk Budhe Yarmi dan kukecup keningnya.
“Maafin Aan Budhe, kalau udah kurang ajar sama Budhe,” kataku membelai lembut rambutnya.
“Sstttt….. Budhe nggak menyesal An, yang penting jangan sampai dimasukin itumu ya…. malah Budhe merasa bahagia karena sudah lama Budhe memendam…….” Kata-kata Budhe tidak berlanjut, dia menyandarkan kepalanya didadaku.
Aku peluk Budhe makin erat dan kubelai-belai rambut Budhe.
“An….” Kata Budhe.
“Iya Budhe..” jawabku.
“Jangan sampai ini ketahuan orang lain ya…” katanya.
“Iya Budhe…” jawabku.
“Beneran lho An, Budhe serius….” Kata Budhe sambil mengangkat kepalanya dan memandang lurus kearahku.
“Iya Budhe sayang…” kataku sambil mengecup bibirnya.
“Hi… hi…. Kamu tu lho….” Kata Budhe genit, “Udah ah, Budhe mau mandi.”
“Mau kemana Budhe?” kataku.
“Ke Bu RT, ada arisan…” katanya sambil bangkit dari duduknya dan membenahi rambutnya.
“He… he…. Ntar malam lagi ya Budhe…” kataku tersenyum nakal kearah Budhe.
“Hi… hi… dasar anak muda…. Udah mandi sana…” katanya.
“Bareng Budhe aja ya….” Kataku sambil memegang tangan Budhe.
“Nggak… ntar kelamaan mandinya… Hi… hii….” Kata Budhe menepis tanganku dan berjalan masuk kekamarnya.
Aku pakai pakaianku lagi. Dan aku menuju kekamar Budhe. Maksud hati ingin menggodanya sekali lagi. Kuketuk pintu kamar Budhe.
“Budhe….” Panggilku.
“Iya…” terdengar jawaban dari dalam kamar Budhe.
“CD-nya ketinggalan Budhe….” Kataku.
Budhe keluar kamar dan handuknya tersampir di pundaknya. Rupanya dia sudah siap-siap mau mandi.
“Lho… kan….” Katanya bingung karena dia sadar tadi keluar nggak pakai CD.
“Ini…..” kataku langsung memeluk Budhe dan kucium bibirnya.
“Heeehhh……” kata Budhe gelagapan.
Kulepaskan ciumanku dan langsung jalan kekamaku sambil tertawa-tawa kecil.
“Hii……. Hiiiii…..” tawaku.
“Oohhh…. Awas kamu ya…. Nanti malam kubalas….. Hi… hiiii….” Kata Budhe sambil ikut tertawa.

Bersambung Kenikmatan Wanita Berumur 3

1 komentar: