Rabu, 13 Juni 2012

Cerita Sex: Kenikmatan Wanita Berumur 1 - Mbok Yem


BAGIAN I
Perkenalkan namaku ****** (Aan). Saat ini aku kuliah di salah satu PTS di kota J----- semester 3. Aku tinggal di rumah Budheku (kakak perempuan Papaku). Namanya Budhe Yarmi, 55 tahun. Dia sudah menjanda selama 7 tahun. Pakdheku dulu salah seorang pejabat di kota J-----. Pakdhe meninggal karena serangan jantung, kedua anak mereka, Mas Burhan dan Mbak Yani tinggal di luar kota dan setahun paling-paling hanya dua kali mereka pulang ke J----. Jadi di rumah hanya ada aku dan Budhe Yarmi. Pembantunya, Mbok Yem, tiap pagi datang membereskan pekerjaan rumah dan menjelang maghrib sudah pulang kerumahnya yang tidak jauh dari rumah Budhe.

Budhe Yarmi walaupun usianya sudah tidak muda lagi, bodynya masih oke banget. Kulitnya masih kencang dan mulus. Seminggu sekali bermain tenis dengan ibu-ibu di komplek. Budhe juga rajin ikut senam, sehingga tubuhnya masih terlihat segar. Walupun sedikit berisi tapi kupikir malah menambah ****** Payudaranya yang seringkali diam-diam kuperhatikan dengan seksama. Kupikir ukurannya 36B, apalagi kalau tiap kali kulihat saat pakai baju senam atau baju tenis. Payudaranya terlihat montok. Memang secara diam-diam aku mengagumi Budhe Yarmi, bagaimana tidak, wajahnya cantik dan kulitnya putih. Kuperhatikan juga Bapak-bapak di komplek sering memperhatikan Budhe secara diam-diam. Tapi karena dulunya Pakdhe adalah seorang pejabat, maka tidak ada yang berani bertindak lebih jauh lagi.
Sabtu pagi, kulihat Budhe sedang bersiap-siap akan berangkat senam. Saat itu dia menggunakan kaos ketat dan celana ketat ¾. Mau tidak mau ‘adik’ku langsug bereaksi melihat kesintalan tubuh Budhe.
“An, hari ini ada kuliah nggak?” tanya Budhe sambil memakai sepatunya.
“Nggak ada Budhe. Emang kenapa Budhe?” tanyaku.
Aku duduk disamping Budhe yang masih sibuk membereskan sepatunya.
“Kalo gitu, ntar jagain rumah ya. Budhe abis senam mau langsung ke rumah Bu Shanti. Mau ada rapat. Pulangnya ntar sore.”
“Iya Budhe, Mbok Yem datangkan hari ini?” tanyaku.
“Iya, tuh lagi Budhe suruh belanja ke warung. Udah ya Budhe berangkat dulu, takut telat,” kata Budhe sambil berjalan keluar menuju mobilnya.
“Hati-hati Budhe,” kataku mengantar Budhe kedepan.
Mobil Budhe perlahan-lahan bergerak meninggalkan rumah. Pada saat itu juga Mbok Yem masuk ke rumah. Mbok Yem usianya 42 tahun, sudah punya anak dua, yang paling besar kelas 2 SMA dan yang kecil masih SMP. Suami Mbok Yem jadi TKI di luar negeri, tapi sudah lima tahun tidak ada kabarnya dan tidak pernah mengirimi nafkah lagi. Makanya Mbok Yem kerja di tempat Budhe untuk menghidupi kedua anaknya. Mbok Yem orangnya hitam manis dan cukup tinggi walaupun sedikit kurus. Biasanya dia datang hanya memakai kaos dan rok dibawah lutut sedikit. Rambutnya dipotong sebahu dan selalu dikuncir. Diam-diam aku juga sering memperhatikan Mbok Yem. Apalagi saat dia mengepel lantai, pantatnya walaupun tidak semontok punya Budhe, tetap menarik untukku.
“Masak apa Mbok hari ini?” tanyaku ketika sudah di ruang makan mau sarapan.
“Sayur asem Mas, tapi kalau mau sarapan sudah Mbok buatin nasi goreng,” katanya.
“Iya Mbok. Makasih,” kataku.
Selesai sarapan, kulihat Mbok Yem sedang memasak di dapur. Karena nggak ada yang bisa kukerjakan, aku duduk di ruang tengah membaca koran sambil menyalakan TV. Hari ini badanku terasa lelah sekali karena semalam aku main futsal sama teman-teman kampus.
‘Wah, kalau dipijit enak nih,’ pikirku.
Tak berapa lama Mbok Yem lewat sambil membawa pakaian kering yang mau disetrika. Sepertinya sudah selesai memasaknya.
“Mbok,” kupanggil Mbok Yem.
“Iya Mas,” sahut Mbok Yem.
“E… Mbok bisa mijit nggak?” kataku sambil membayangkan yang tidak-tidak.
‘Gila! Pagi-pagi gini udah ngeres nih otak,’ pikirku.
“Ya bisa Mas, kan biasanya juga mijitin Ibu kalau abis Tenis. Emang mau dipijitin ya Mas? Tapi ntar abis Mbok setrika ya Mas,” kata Mbok Yem.
“Ya udah kalo gitu Mbok, ntar kalo udah selesai kutunggu di sini aja,” kataku.
Sambil nunggu Mbok Yem selesai setrika, aku tidur-tiduran di karpet didepan TV. Tak sabar rasanya karena sebentar lagi untuk pertama kalinya aku bisa sangat dekat dengan Mbok Yem, merasakan pijitannya. Membayangkannya saja sudah membuat otakku langsung berpikir kotor, alhasil ‘adik’ku bereaksi. Cukup lama kemudian baru Mbok Yem muncul dari belakang.
“Jadi Mas, dipijitin?” tanyanya.
“Iya Mbok, badanku rasanya pegal-pegal semua,” kataku.
Padahal bukan cuman tubuhku yang pengin dipijitin Mbok Yem, ‘adik’kecil’ku juga pengin merasakan pijitan Mbok Yem.
“Sebentar ya Mas, Mbok ambil hand body dulu,” kata Mbok Yem.
Tak lama kemudian Mbok Yem datang dengan membawa hand body.
“Kaosnya dilepas saja Mas Aan,” kata Mbok Yem sambil duduk di sampingku.
Aku bangkit dari tidur dan kulepas kaosku.
“Emang Budhe kalo dipijitin juga pakai hand body ya Mbok?” tanyaku dengan tampang polos.
Otakku membayangkan tubuh Budhe yang putih mulus lagi dipijit sama Mbok Yem.
‘Coba aku jadi Mbok Yem yang mijitn Budhe. He… he…’ pikirku sambil tersenyum - senyum sendiri.
Mbok Yem melihatku tersenyum sendiri juga ikut tersenyum. Dipikirnya aku pasti membayangkan yang tidak-tidak.
“Hi… hii… ya iya dong Mas. Kenapa hayo? Pasti ngeres pikirannya,” kata Mbok Yem masih dengan senyumnya.
“He… he… dikit Mbok, kan aku belum pernah lihat tubuh wanita. Makanya bisanya cuman mbayangin aja Mbok. Kalo mbayangin aja nggak papa kan Mbok?” kataku tersenyum nakal.
“Ya nggak papa Mas, tapi jangan sampai keterusan lho. Hi… hi… Udah, jadi mau dipijit nggak?”
“Jadi dong Mbok,” kataku sambil tengkurap diatas karpet.
Mbok Yem mengoleskan hand body ke tangannya dan mulai memijitku. Pertama pundakku yang dipijitnya kemudian berpindah ke punggung. Sepertinya Mbok Yem cukup ahli dalam memijit. Tubuhku terasa rilaks. Posisi duduk Mbok Yem yang sangat dekat denganku membuat tangan kananku menepel dengan pahanya. Semula punggung tanganku yang menempel pahanya, lalu kubalik tanganku jadi sekarang telapak tanganku yang menempel ke pahanya. Kudiamkan tanganku seperti itu menunggu reaksi dari Mbok Yem. Sepertinya dia nggak keberatan dengan posisi tanganku. Kemudian dengan gerakan yang kubuat seolah-olah tidak sengaja, ku geser telapak tanganku keatas pahanya dan kudiamkan seperti itu. Mbok Yem sepertinya kaget juga karena pijitannya sempat berhenti beberapa saat. Tapi kemudian melanjutkan memijit punggungku.
‘Siip, langkah pertama sukses,’ pikirku.
“Ee… gimana kabarnya anak-anak Mbok?” tanyaku mencoba mengalihkan perhatian Mbok Yem.
“Baik Mas, anak – anak sebentar lagi mau ujian kenaikan kelas,” katanya.
Tanganku tidak tinggal diam. Aku mulai mengelus-elus paha Mbok Yem yang tertutup roknya.
“Ya syukurlah Mbok. Kapan-kapan Wati diajak kesini saja, ntar kuajarin komputer,” kataku sambil pelan-pelan mengelus-elus paha Mbok Yem.
“Eee…. Ii.. ya.. Mas,” suara Mbok Yem sedikit bergetar.
Kemudian kami terdiam. Tanganku belum berhenti beraksi. Dan sepertinya Mbok Yem juga menikmati aksi tanganku itu. Kudengar nafasnya sedikit bertambah kencang. Setelah cukup lama, kuberanikan untuk pelan-pelan mengangkat roknya, sehingga tanganku menyentuh pahanya tanpa halangan apapun. Kulakukan itu dengan hati-hati biar Mbok Yem tidak curiga. Kudiamkan tanganku dulu, kemudian pelan-pelan kuelus-elus paha Mbok Yem. Nafas Mbok Yem kudengar bertambah berat, tapi dia tidak melakukan apa-apa untuk mencegah aksi tanganku. Sepertinya dia juga menikmatinya, mungkin karena sudah lama dia tidak dibelai oleh laki-laki.
“Belum ada kabar dari suaminya Mbok?” tanyaku.
“Be.. belum Mas. Mbok sudah melupakan dia kok Mas,” katanya sedikit berat.
Aku jadi tidak enak karena menanyakan suaminya.
“Ma.. maaf Mbok, aku nggak maksud menyinggung Mbok Yem,” kataku.
“Nggak papa Mas, lagian anak-anak juga sudah tidak menanyakan bapaknya lagi, sudah terbiasa kali,” kata Mbok Yem.
“Tapi kasihan anak-anak juga lho Mbok. Kok Nggak nyari bapak baru aja Mbok, buat anak-anak,” kataku iseng.
“Ih.. ya nggak bisa dong Mas, kan kami belum resmi cerai. Lagian Mbok udah tua, nggak mikirin itu-itu lagi,” kata Mbok Yem.
Selama kami mengobrol seperi itu, kurasakan tangan Mbok Yem masih memijit bagian atas punggungku terus, tidak berpindah-pindah. Mungkin konsentrasinya terganggu karena tanganku juga lama-lama mengelus-elus pahanya makin naik keatas. Sampai tak terasa, kurasakan jariku menyentuh pinggir CD Mbok Yem. Kurasakan ada sedikit rambut halus yang keluar dari pinggir CDnya.
“Itu – itu apaan sih Mbok?” tanyaku memancing Mbok Yem.
“Hi… hi… Mas tuh kayak nggak tahu aja,” kata Mbok Yem sambil tertawa kecil.
Sepertinya Mbok Yem tidak ada masalah ketika kuajak ngobrol yang agak nyrempet-nyrempet. Karenanya aku makin tambah berani memancing Mbok Yem.
“Bener Mbok, aku nggak tahu. He… he….” Kataku sambil tanganku tidak berhenti beraksi meraba dan mengelus paha Mbok Yem.
“Alah, katanya nggak tahu kok malah cengengesan gitu. He… he…” kata Mbok Yem.
“He… he… apa nggak pengin tiap malam ditemenin lagi Mbok?” tanyaku makin berani.
“Kan tiap malam Mbok udah ditemenin anak-anak Mas,” katanya.
“Kan beda dong Mbok,” kataku.
“Ah… udah nggak mikirin lagi Mas. Badannya sudah enak belum Mas?” kata Mbok Yem mengalihkan pembicaraan.
“Bentar lagi Mbok, dipijit Mbok rasanya enak banget,” kataku.
Aku tidak mau ini berhenti begitu cepat. Aku masih ingin melanjutkan permainan ini. Kemudian dengan hati-hati kupindahkan elusan tanganku ke bagian dalam pahanya. Tangan Mbok Yem yang sedang memijitku terdiam sesaat. Nafasnya bertambah menderu. Tapi Mbok Yem hanya diam tidak menepis tanganku. Bagaikan mendapat lampu hijau, kuberanikan mengelus-elus paha Mbok Yem dekat dengan bagian tengah selangkangannya.
“Eegggh…” Mbok Yem merintih pelan.
Kulirik matanya terpejam dan tekanan tangannya yang memijitku sudah berkurang sekali. Kunaikkan tanganku sampai kurasakan jariku menyentuh CD Mbok Yem, kali ini tepat di bagian yang menutupi memeknya.
“Eegghhhh…” Mbok Yem merintih lagi dan tubuhnya sedikit bergetar.
Sepertinya Mbok Yem tambah terangsang dengan permainan tanganku. Kuelus-elus CD Mbok Yem lebih sering dan kutekan-tekan sedikit dengan jempolku. CD Mbok Yem sekarang menjadi basah karena makin terangsang. Tanganya yang semula memijitku sekarang hanya mengelus-elus punggungku dan matanya masih terpejam. Nafas Mbok Yem terdengar semakin berat dan tak karuan. Kemudian kuputuskan untuk mengambil langkah lebih jauh lagi.
“Ee.. Mbok, ganti pahaku yang dipijitin ya?” kataku.
“Eee. Iii… ya… Mas,” Kata Mbok Yem dengan suara bergetar.
Tanpa menunggu lama kubalikkan tubuhku, dan masih dengan posisi telentang kupelorotkan celana pendekku hingga kini aku tinngal pakai CD yang terlihat menggembung karena ‘adik’ku sudah tegang banget didalamnya. Mbok Yem terlihat kaget tapi hanya diam saja. Kemudian tangannya mulai memijit paha kiriku. Kali ini dia lupa mengoleskan hand body terlebih dahulu, mungkin pikirannya sudah melayang kemana-mana. Tanganku kuletakkan kembali dia atas paha Mbok Yem. Tanpa menunggu ijin, langsung kuselusupkan tanganku dibawah roknya. Mbok Yem hanya terdiam dan melanjutkan memijit pahaku. Kulihat matanya sudah terpejam. Kusingkapkan roknya keatas, kulihat dua paha Mbok Yem yang menggairahkan dan CD hitam yang membungkus memeknya. Walaupun sedikit hitam (sawo matang) dan tidak semontok punya Budhe, tetap saja pemandangan di depan mataku ini membuat aku makin terangsang. ‘Adik kecil’ku bertambah tegang dan kini kepala penisku mulai terlihat menyembul ke atas CD-ku.
“Eegghhh… Uggghh…” Mbok Yem merintih karena jariku terus mengelus memeknya dari luar CD-nya.
Kutekan-tekan CD-nya dengan jempolku sampai masuk kedalam memeknya. CD Mbok Yem bertambah basah. Karena kupikir Mbok Yem sudah mulai terangsang, aku berhenti mengelus-elus memeknya, kupindahkan tanganku menyelusup ke balik kaosnya dan kuremas-remas payudara Mbok Yem yang masih terbungkus BH. Mbok Yem makin merapatkan duduknya kearahku. Kusingkapkan BH-nya keatas dan kupilin-pilin putingnya. Tangan kiriku memegang tangan Mbok Yem yang sedang mijit pahaku dan kutuntun kearah penisku. Kuletakkan tangan Mbok Yem diatas penisku. Dan tanpa disuruh dia mulai mengelus dan meremas penisku yang masih tebungkus CD.
“Eggghhh… egghhhh….” Erangku karena merasakan kenikmatan penisku di remas-remas Mbok Yem.
“Eggghhhh… ehhhh….” Mbok Yem juga merintih pelan.
Tangan Mbok Yem tidak berhenti meremas-remas penisku. Akhirnya aku bangkit dari tidurku dan langsung kucium Mbok Yem yang masih terpejam matanya.
“Mmmmmffff……” erang MboK Yem membalas ciumanku.
Matanya masih terpejam. Tanganku berpindah ke payudaranya yang lain. Kupilin-pilin juga putingnya. Mbok Yem kelihatan semakin terbakar nafsunya, karena tangannya sekarang mulai menelusup ke balik CD-ku dan mengcok penisku. Rasanya nikmat sekali ketika penisku dikocok Mbok Yem seperti itu. Ciuman kami tidak berhenti, kumasukkan lidahku ke dalam mulutnya dan kumainkan lidahnya dengan lidahku.
“MMmmmfff… kaosnya dilepas aja ya Mbok?” kataku sambil melepas ciumanku.
“Eee… Iya Mas,” katanya dengan nafas yang semakin memburu.
Kulepas kaos Mbok Yem dan kulepas kaitan BH hitamnya. Terlihatlah olehku bukit kembar Mbok Yem. Masih lumayan kencang, walaupun ukurannya tidak begitu besar. Putingnya menjulang bagaikan ujung pensil, dan dikelilingi oleh lingkaran hitam yang cukup besar. Lalu kurebahkan Mbok Yem diatas karpet dan langsung kuserbu mulutnya.
“Mmmm…. Mmmm….” Rintih Mbok Yem dan matanya kembali terpejam.
Kumasukkan kembali lidahku kedalam mulutnya. Tanganku bergerak ke bawah tubuhnya. Kuraba Memeknya yang masih terbungkus CD. Tubuh Mbok Yem sesekali bergetar dan pinggulnya mulai bergoyang-goyang ketika kutekan-tekan memeknya. Karena sudah tidah tahan lagi, ku buka rok Mbok Yem. Kemudian CD-nya kutarik kebawah sampai terlepas. Sekarang Mbok Yem sudah telanjang bulat dihadapanku. Memeknya terlihat sangat menggairahkan, bulu-bulu hitam disekitar memek Mbok Yem cukup tebal. Setelah puas memandang tubuh Mbok Yem sebentar, langsung kulumat putting Mbok em dengan mulutku. Kumainkan dengan lidahku, sedangkan tanganku langsung mengobok-obok memek Mbok Yem. Kumasukkan jari tengahku kedalam memeknya yang sudah basah.
“Aagghhh… Eegghhhh….” Mbok Yem merintih dan mengangkat pinggulnya ketika jariku sudah masuk sepenuhnya ke dalam memeknya.
“Uughhhh… Ugghhhhh….” Mbok Yem terus mengerang ketika ku gerakkan jariku maju mundur didalam memeknya.
Setelah puas melumat kedua puting Mbok Yem yang bertambah tegak, aku pindah posisi kebawah. Ku buka lebar-lebar paha Mbok Yem, kusibakkan bulu-bulu hitam disekitar memek Mbok Yem. Kemudian kubuka bibir memek Mbok Yem yang cukup tebal. Kudekatkan kepalaku ke memeknya, kulihat lubang memek Mbok Yem sudah basah. Mbok Yem sendiri masih terpejam matanya dan pasrah atas perlakuanku. Lalu aku mulai menjilati lubang memek Mbok Yem dengan lidahku.
“Egghhh… Eghhhh…” Mbok Yem bergetar dan membuka matanya.
“Eehh… kok digituin Mas?” katanya kaget.
Tangannya mencoba mendorong kepalaku. Tapi aku terus menjilati memeknya, kumainkan ‘itil’ Mbok Yem dengan lidahku.
“Aagghhhh… aggghhh…. Mbok diapain Mas…. Eeeggghh… Ee..naaaak… Maas…” Mbok Yem merintih panjang.
Tangannya tidak lagi mendorong kepalaku, malah seakan-akan mendorong kepalaku ke memeknya. Pinggul Mbok Yem terangkat.
“Maas…. Maaas….. Aaagggghhhhhh…….” Mbok Yem kembali merintih panjang.
Tubuhnya bergetar keras dan pahanya menjepit kencang kepalaku. Kurasakan ada cairan keluar dari dalam lubang memeknya. Kujilati terus memeknya, ada rasa asin sedikit, kemudian lubang memeknya berhenti mengeluarkan cairan. Kuangkat kepalaku dengan susah payah karena jepitan paha Mbok Yem. Kulihat Mbok Yem nafasnya tidak karuan dan matanya masih terpejam. Kemudian kudekati mulutnya dan kucium bibir Mbok Yem yang sedikit terbuka.
“Mmmmm…. Mmmm…..” desah Mbok Yem.
Kemudian kupegang penisku yang sudah tidak tahan lagi ingin masuk ke tempatnya. Kutempelkan ujung penisku ke bibir memek Mbok Yem yang membuka pahanya lebar-lebar. Ku dorong sedikit demi sedikit sampai setengah penisku masuk ke dalam memeknya.
“Eegggghhh… Egghhhh…. Pe… pelan… Mas,” kata Mbok Yem yang sekarang membuka matanya dan memandang kearahku, “Udah lama Mas soalnya, lagian punya Mas Aan gedhe banget..”
“Egh… Iya Mbak,” kataku.
Kutarik pensiku kemudian kudorong masuk lagi. Kulakukan itu berulang-ulang sampai akhirnya seluruh pensiku masuk kedalam memek Mbok Yem.
“Aaghhhh…….” Mbok Yem menjerit dan nafasnya terengah-engah.
Lalu mulai kugerakkan pinggulku maju mundur. Mulanya pelan-pelan lalu makin lama kutambah kecepatannya.
“Eeghhhh… Eghhhhh….” Erangku.
Sedikit heran aku, karena Memek Mbok Yem terasa sempit. Mungkin sudah lama tidak dipakai pikirku.
“Ugghhh… Ughhhhh….. Uughhhh….” Rintihan Mbok Yem terdengar tiap kali penisku masuk kedalam memeknya.
Kedua tangan Mbok Yem memegang pinggulku seolah-olah mendorongku agar memasukkan penisku lebih dalam lagi kedalam memeknya. Nafas kami terdengar semakin memburu. Cukup lama kuentot Mbok Yem sampai kurasakan buah zakarku terasa penuh.
“Eegghhh…. Egghhh… Mboookk… akuuu… mau keluuaaarr…”
“Mboookk juga Mas… Aaghhhh… aghhhh….”
“Aaaaghhhhhhh…. Aaghhhhhh…. Mbok Yeeeemmm……” erangku.
Keluarlah spermaku kedalam memek Mbok Yem.
“Aaaaaggghhhhhhhh…………” Mbok Yem juga mengerang.
Tubuhnya bergetar keras dan pinggulnya terangkat. Kurasakan penisku disembur cairan di dalam memek Mbok Yem. Matanya terpejam dan tangannya memegang kencang tanganku. Akhirnya penisku berhenti mengeluarkan isinya, begitu juga dengan Mbok Yem. Aku langsung ambruk diatas Mbok Yem dengan nafas terengah-engah. Penisku masih menancap didalam memeknya. Setelah mencoba mengatur nafas, kuangkat tubuhku tapi tidak melepas penisku dari dalam memeknya. Kupandangi wajah Mbok Yem yang perlahan-lahan mulai membuka matanya dan tersenyum padaku.
“Makasih ya Mbok, aku sayang Mbok Yem,” kataku sambil mencium pipinya.
“Egh… Mbok juga Mas. Mbok nggak pernah ngrasain yang kayak gini Mas,” kata Mbok Yem.
“Lho kan dulu sama suaminya juga ginian Mbok,” kataku.
“Iya Mas, tapi nggak pernah ngrasain sampai begini. Apalagi ‘itu’ku tadi diciumin kayak gitu. Mbok kan belum pernah digituin, tapi rasanya enak banget mas. Makasih ya Mas,” katanya, “Mas kok mau-maunya sih sama Mbok? Mbok kan sudah tidak muda lagi Mas.”
“Abis Mbok Yem menggemaskan sih… He… He….” Kataku.
“Ihh… Mas itu lho…” katanya mencubit pinggangku.
“Kok Nggak percaya? Mau bukti? Tuh lihat dedekku belum mau loyo juga,” kataku sambil sedikit menggoyangkan pinggulku sedikit.
“Egghh…. Mas tuh lho… kok masih tegang sih Mas?”
“Mbok Yem menggemaskan sih… Hi… Hi…” kataku sambil kugoyangkan pinggulku.
“Hi… hii…. Masih mau lagi ya Mas? Gak capek?” katanya tersenyum nakal kearahku.
“Nggak dong… Mbok Yem capek ya?” tanyaku.
Mbok Yem hanya menggelengkan kepalanya. Kucium bibirnya.
“Mmmmm….” Mbok Yem mendesah pelan.
“Ke kamar aja ya Mbok,” kataku.
Mbok Yem tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lalu perlahan kucabut penisku dari dalam memeknya. Kemudian kami menuju kamarku dan tidak lupa membawa pakaian kami kedalam kamar. Sampai kamar langsung kukunci pintunya dan kususul Mbok Yem yang sudah berbaring di tempat tidurku. Langsung kucium bibirnya. Kemudian aku duduk bersandar di tembok dan kutuntun Mbok Yem agar duduk di pangkuanku. Mbok Yem sepertinya tahu apa yang kuinginkan. Kemudian dia duduk dipangkuanku dan mencium bibirku. Memeknya menempel pada penisku. Kemudian Mbok Yem mengangkat pantatnya dan memegang penisku. Diarahkannya penisku ke dalam lubang memeknya. Kali ini tanpa kesulitan penisku masuk ke memeknya.
“Uughhhh…. Ughhhhh….” Mbok Yem mendesah.
Kemudian dia mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur.
“Eghhh… eghhhh… enak banget Mas….” Katanya.
“Aaghhh… aghhh….” Kataku.
Lalu dia mengangkat pantatnya dan menurunkannya lagi. Diulanginya itu terus menerus. Kuremas-remas payudara Mbok Yem yang bergoyang-goyang tiap kali dia naik turun.
“Eeghhhhh… Eghhhh… eghhhhh….” Desah Mbok yem dengan kepalanya terangkat kebelakang.
Setelah cukup lama, nafas Mbok Yem terdengar terengah-engah. Lalu kuminta dia menungging dia atas kasur. Kemudian aku mengambil posisi dibelakang Mbok Yem. Kumasukkan penisku ke dalam memeknya dari belakang.
“Uughhh… ughhhhh…” erang Mbok Yem.
Kugerakkan pinggulku maju mundur. Kupegang pantatnya dan kuremas-remas. Saat itu yang terdengar hanya erangan kami berdua dan suara pantat Mbok Yem yang bertemu dengan pinggulku. Cukup lama kupompa memek Mbok em seperti itu. Kemudian aku merasa akan keluar lagi.
“Eghhhh… eghhhh… Mboookkkk…” erangku.
“Egghhh…Maaasss… Ughhhhh…. Keluaaaar Maaas…. Aaaghhhhhhhh………” Erang Mbok Yem.
Aku tahu Mbok Yem mencapai klimaksnya. Tak lama kemudian aku juga memuntahkan spermaku ke dalam memeknya.
“Aaaagggghhhhhhh……… aakuu jugaaa Mbook….” Erangku.
Tertumpahlah seluruh spermaku ke dalam memeknya. Setelah tidak ada lagi yang tersisa kucabut penisku yang mulai mengendur.
“Ploop,” terdengar suara ketika kucabut penisku dari memek Mbok Yem.
Kemudian aku merebahkan tubuhku yang kecapekan disamping Mbok Yem yang tidur tengkurap. Dan akupun tertidur kecapekan. Tak tahu berapa lama aku tertidur sampai kurasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirku.
“Mmmmm….” Rintihku sambil membuka mata.
Kulihat Mbok Yem didepanku tersenyum manis. Kemudian dia bangkit dan membereskan pakaiannya.
“Kalau mau tidur lagi, pakai baju dulu Mas,” katanya masih tersenyum.
“Heeh… jam berapa ini Mbok?” kataku.
Aku bangkit dari tidurku dan melangkah ke kamar mandi. Kebetulan kamar mandiku di dalam kamar.
“Ee… jam setengah tiga Mas, bentar lagi Ibu pulang,” katanya.
“Oo… tunggu dulu Mbok Yem,” kataku.
Kudekati Mbok Yem yang sudah di depan pintu kamarku mau keluar. Lalu langsung kupeluk dia dan kucium bibirnya.
“Ihhh….. bau… Udah ah Mas…” katanya manja.
“He… he…. Makasih ya Mbok sayang…” kataku sambil mengecup bibirnya sekali lagi.
“Hi… hi…. Genit ah…” katanya tertawa kecil dan keluar dari kamarku.
Akupun ke kamar mandi dan berpakaian lagi. Karena masih terasa capek kuputuskan untuk melanjutkan tidurku. Sampai lupa untuk makan siang.

Bersambung Kenikmatan Wanita Berumur 2

3 komentar:

  1. Balasan